Merek
Komunitas
Vietnam tea
Jumpa lagi
Setelah lawatan kebeberapa daerah, memahami kearifan lokal dan budaya daerah, memberi inspirasi untuk menuangkan ide menulis.
Setelah lawatan kebeberapa daerah, memahami kearifan lokal dan budaya daerah, memberi inspirasi untuk menuangkan ide menulis.
Baiklah kali
ini saya mencoba sedikit mengulas mengenai pentingnya sedikit merek tapi
berkualitas dan dapat diandalkan daripada banyak merek tapi tidak banyak
berarti.
seperti yang kita ketahui bersama, bahwa jumlah UKM di Indonesia tidak kurang dari 50. eeiit.. tunggu dulu, bukan 50 orang pengusaha lho, juga bukan 50.000 UKM tapi 50 juta (pake 0-nya enam). 50.000.000 bukanlah jumlah yang sedikit, bukan pula sektor yang tidak diperhitungkan, justeru ketika tahun 1998 perekonomian Indonesia lumpuh, hanya UKM lah yang masih survive dan menjadi andalan bangsa dalam pembangunan bangsa dan negara.
seperti yang kita ketahui bersama, bahwa jumlah UKM di Indonesia tidak kurang dari 50. eeiit.. tunggu dulu, bukan 50 orang pengusaha lho, juga bukan 50.000 UKM tapi 50 juta (pake 0-nya enam). 50.000.000 bukanlah jumlah yang sedikit, bukan pula sektor yang tidak diperhitungkan, justeru ketika tahun 1998 perekonomian Indonesia lumpuh, hanya UKM lah yang masih survive dan menjadi andalan bangsa dalam pembangunan bangsa dan negara.
Sayangnya,
besarnya jumlah UKM di Indonesia masih belum bisa banyak berkiprah didunia
Luar, coba anda hitung berapa banyak UKM Indonesia yang GO Internasional,
katakanlan ada BABARAFI, ES TELER 77, dan apa lagi coba, kalo toh ada apakah
jumlahnya 10% dari total UKM Indonesia, mungkin terlalu banyak yaa… coba kita
ganti prosentasinya dengan 1% = 500.000 UKM Go Internasional ????, masih telalu
banyak yaa…. mungkin 0.01% = 1.000 UKM ???? saya juga belum yakin jika sudah
ada 1.000 UKM yang GO Internasional (meskipun saya berharap mencapai angka
tersebut).
Coba
bayangkan hanya 0.01% saja = 1/100 % dari total UKM yang bisa eksis/ go
Internasional sedang 99.99% belum siap untuk bertarung di dunia luar. padahal
desember 2015 atau bulan depan kita sudah membuka diri dengan perdagangan bebas
antar negara asean yang sering di sebut dengan MEA. lantas siapkah kita ????
Siap tidak
siap, HARUS SIAP. percuma kita mengeluh, toh juga pasti akan terjadi juga
perdagangan bebas negara-negara ASEAN. fokus kita bukan pada keluhan, tapi
bagaimana kita harus bersikap. sedikit menyimpang, penulis sering diajak study
kemasan baik di nusantara, luar negeri, termasuk juga dinegara-negara yang
tergabung dalam ASEAN. ambil contoh Thailand dan Vietnam. Umumnya produk-produk
UKM mereka memiliki kemasan yang menarik, baik dari segi desain kemasan, desain
grafis, maupun penambahan hal-hal inovatif yang lucu dan ada juga yang nakal. hal-hal
seperti ini, ternyata membuat banyak orang termasuk penulis menjadi ingin
memiliki produk tersebut.
singkat
cerita kita belilah produk-produk tersebut dengan harapan produk memiliki rasa
atau kualitas seperti kemasan, ternyata harapan sekedar harapan, impian sekedar
impian hampir 80% produknya tidak sesuai dengan Lidah kita Bangsa Indonesia,
bagi penulis, rasa produk hambar tampilan produk yaaa datar-datar saja. masih
jauuuh lebih enak produk-produk UKM Indonesia, meski secara kualitas kemasan
masih ketinggalan. selain ketinggalan produk UKM Indonesia memiliki ribuan,
ratusan ribu bahkan jutaan merek, membuat pembeli bingung produk mana yang enak
dan direkomendasikan.
kembali ke
merek, tidak banyak merek-merek yang penulis jumpai dalam lawatan dan study
packaging di negara-negara ASEAN. dan banyak sekali penulis jumpai produk
diBRAND atau diMERKi dengan nama-nama kota-kota Mis: Saigon Tea, Hanoi Tea,
Danang Tea, dan masih banyak yang lain mis di jepang tepung KOBE, di Amerika
Kentucky Fried Chicken, dll.
Menurut pendapat penulis, tidak ada salahnya jika kita menyatukan UKM dan
memberi payung nama yang sama (tentunya dengan SOP yang bagus sehingga ada QC
yang handal agar tercipta produk yang berdaya saing dan standart).
Hal serupa
telah dilakukan oleh teman-teman UKM di Malang, dengan Branding “Amazing
Malang” mereka berusaha mengerucutkan Brand, menjadi brand komunitas dengan
quality control yang handal. awalnya berat, namun ketika brand mulai meluas dan
dikenal banyak orang, “Amazing Malang” menjadi pilihan yang tepat sebagai
payung untuk memulai usaha dan meningkatkan kualitas dan kuantitas produk.
Hal-hal seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan pemerintah dalam
meningkatkan daya saing UKM di Indonesia, sebab saat ini yang dibina cuma itu
dan itu-itu lagi. dengan adanya brand community maka mutu bisa dijaga, kemasan
bisa dibuat semenarik mungkin dan yang pasti dapat dijangkau oleh komunitas,
dimana hal ini belum tentu dapat dilakukan oleh tiap-tiap individu mandiri.
Amazing
Malang merupakan fenomena menarik dan dapat dijadikan pilot project bagi
kota-kota lain.
Semoga
sedikit sharing dari penulis, dapat memberikan warna bagi UKM di Indonesia
salam hormat kami
Ronny Kurniawan
salam hormat kami
Ronny Kurniawan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar